Dalam ajaran islam dakwah memiliki urgensi yang sangat penting, karena
hanya dengan dakwah pulalah syi’ar islam menyebar ke seluruh penjuru di setiap
generasi. Allah pun menjanjikan pahala yang besar bagi para da’i yang berjuang
keras dalam medan dakwah walaupun mendapatkan berbagai tantangan dan rintangan.
Seorang da’i atau muballigh memang dikenal sebagai seseorang yang
mengajak dan mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada masyarakat baik itu berupa
perintah yang wajib ditaati maupun larangan yang harus dijauhi yang bersumber
dari al-qur’an dan sunnah. Tidak memandang bagaimana medan dan tempat seorang
muballigh dalam berdakwah di tempat itulah kalimat tauhid ditegakan dan teladan
di ajarkan. Sehingga terwujud masyarakat damai, tentram dan sejahtera yang
sesuai dengan syariat islam.
Namun
dalam proses berdakwah seorang da’i pasti menemukan problem atau hambatan yang
kelihatannya sepele. Ada beberapa hambatan yang kita temukan dalam berdakwah
diantaranya:
Persiapan
materi: kurang persiapan dalam materi
dapat menghambat seorang da’i untuk menyammpaikan pesan. Banyak kita temukan di
majlis ta’lim para jama’ah yang drikir (tidur) atau mengobrol sehingga
mengurangi kenyamanan dalam berdakwah.
Penguasaan
materi: seorang dai’ terkadang kurang
menguasai materi yang akan disampaikan sehingga ketika berdakwah pesannya itu
jauh dari apa yang sebenarnya harus disampaikan, akibatnya pembahasannya jadi melebar kepembahasan lain yang tidak ada kaitannya
tentu para jama’ah akan merasa kebingungan dan merasa kurang puas dari apa yang
disampaikan tersebut.
Bahasa: bahasa adalah salah satu alat untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Ketika kita dakwah maka harus disesuaikan bahasanya dengan bahasa di tempat
kita dakwah. Masih kita temukan diberbagai daerah seorang dai itu tidak
memperhatikan masalah ini sehingga antara dai dan jama’ah tidak ada komunikasi
yang sejalan/sealur.
Itulah
beberapa hambatan yang sering kita temukan di berbagai tempat. Untuk mengantisipasi
hal tersebut maka seorang da’i harus mempersiapkan dan menuasai materi dengan
matang sehingga tidak beralih kepembahasan yang lain dan juga menggunakan
bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
