Powered By Blogger

Rabu, 04 Maret 2015

HAMBATAN DALAM BERDAKWAH


         Dalam ajaran islam dakwah memiliki urgensi yang sangat penting, karena hanya dengan dakwah pulalah syi’ar islam menyebar ke seluruh penjuru di setiap generasi. Allah pun menjanjikan pahala yang besar bagi para da’i yang berjuang keras dalam medan dakwah walaupun mendapatkan berbagai tantangan dan rintangan.

       Seorang da’i atau muballigh memang dikenal sebagai seseorang yang mengajak dan mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada masyarakat baik itu berupa perintah yang wajib ditaati maupun larangan yang harus dijauhi yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah. Tidak memandang bagaimana medan dan tempat seorang muballigh dalam berdakwah di tempat itulah kalimat tauhid ditegakan dan teladan di ajarkan. Sehingga terwujud masyarakat damai, tentram dan sejahtera yang sesuai dengan syariat islam.

           Namun dalam proses berdakwah seorang da’i pasti menemukan problem atau hambatan yang kelihatannya sepele. Ada beberapa hambatan yang kita temukan dalam berdakwah diantaranya:

        Persiapan materi: kurang persiapan dalam materi dapat menghambat seorang da’i untuk menyammpaikan pesan. Banyak kita temukan di majlis ta’lim para jama’ah yang drikir (tidur) atau mengobrol sehingga mengurangi kenyamanan dalam berdakwah.

           Penguasaan materi: seorang dai’ terkadang kurang menguasai materi yang akan disampaikan sehingga ketika berdakwah pesannya itu jauh dari apa yang sebenarnya harus disampaikan, akibatnya pembahasannya jadi  melebar kepembahasan lain yang tidak ada kaitannya tentu para jama’ah akan merasa kebingungan dan merasa kurang puas dari apa yang disampaikan tersebut.

        Bahasa: bahasa adalah salah satu alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ketika kita dakwah maka harus disesuaikan bahasanya dengan bahasa di tempat kita dakwah. Masih kita temukan diberbagai daerah seorang dai itu tidak memperhatikan masalah ini sehingga antara dai dan jama’ah tidak ada komunikasi yang sejalan/sealur.

            Itulah beberapa hambatan yang sering kita temukan di berbagai tempat. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka seorang da’i harus mempersiapkan dan menuasai materi dengan matang sehingga tidak beralih kepembahasan yang lain dan juga menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi.